Home Daerah Inovasi Polnes dan Politani Samarinda Hadirkan Smart Dryer System untuk Petani Talas...

Inovasi Polnes dan Politani Samarinda Hadirkan Smart Dryer System untuk Petani Talas Beneng

0
Tim dosen dari Konsorsium Perguruan Tinggi Vokasi Kaltim (Polnes dan Politani Samarinda) merancang dan membangun Smart Dryer System, alat alternatif pengering bahan baku talas beneng selain panas matahari, sekaligus jadi solusi saat musim hujan. (Ist)

Terkiniku,com – Tantangan pengolahan daun talas beneng di Kalimantan Timur akhirnya mendapat solusi melalui inovasi teknologi tepat guna berbasis riset terapan. Tim dosen dari Konsorsium Perguruan Tinggi Vokasi Kaltim yang terdiri dari Politeknik Negeri Samarinda (Polnes) dan Politani Samarinda menghadirkan Smart Dryer System untuk meningkatkan efisiensi proses pengeringan, terutama pada musim hujan.

Inovasi ini dikembangkan melalui program Berdikari yang didukung oleh Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP) serta Minat Saintek Kemendikbudristekdikti. Tim peneliti terdiri dari akademisi lintas disiplin, yaitu Surahman, Ph.D., Said Keliwar, M.Sc., Dr. Prapdopo, Ani Fatmawati, M.T., Adnan Putra Pratama, M.Sc., dan Pandhu Rochman Suosa, M.Sc.

Smart Dryer System dirancang menggunakan konsep efek rumah kaca yang berfungsi memerangkap panas matahari dalam ruang tertutup sehingga suhu pengeringan tetap stabil meski cuaca tidak menentu. Alat ini juga dilengkapi teknologi Internet of Things (IoT) untuk memantau suhu, kelembaban, sensor udara, dan parameter pengeringan secara real time.

Teknologi ini menjadi alternatif modern dibanding metode pengeringan tradisional yang hanya mengandalkan sinar matahari. Selain mempercepat proses produksi, alat ini juga meningkatkan kualitas dan higienitas olahan talas beneng agar memenuhi standar pasar nasional maupun ekspor.

Penerapan alat dilakukan pada Kelompok Tani Trimas Makmur di Desa Bukit Raya, Kecamatan Samboja, Kabupaten Kutai Kartanegara. Selama ini kelompok tersebut menjadi salah satu penggerak ekonomi masyarakat melalui pengolahan talas beneng. Namun, proses produksi mereka sering terhambat saat musim hujan karena lamanya waktu pengeringan dan risiko gagal panen.

Ketua kelompok tani, Edi Suwignyo, menyampaikan harapannya terhadap penggunaan teknologi baru tersebut.

“Selama ini produksi kami sangat bergantung pada cuaca, tapi dengan alat ini kami bisa lebih tenang karena proses pengeringan tidak lagi terhambat meski hari hujan,” ujarnya. (Red)

Exit mobile version